Naik Gunung Gede
Sebuah Cerita Menuju Puncak Gunung Gede
Puncak Gunung Gede dengan ketinggian 2958 mdpl.
Sebuah cerita tentang gunung dan hutan yang telah saya telusuri menembus hijaunya hutan-hutan yang penuh duri dan dinginnya di malam hari. Pertama kali saya datang ke sebuah tempat bernama Situ Gunung setelah menempuh perjalanan yang membuat badan luluh lantak bersama teman-teman menelusuri lika-liku jalan. Saya merasakan dinginnya sebuah suhu yang membuat tulang hampir rapuh dibuatnya. Kami menelusuri malam hari menuju tempat perkemahan demi mendapat sebuah kenyamanan yang bernama istirahat. Pelajaran demi pelajaran saya dapat dari seorang pria yang telah banyak makan asam garam di dunia hutan dan gunung. Sosok pria tersebut dulu adalah seorang sarjana dari fakultas di mana Soe Hok Gie juga kuliah di sana dahulu tahun 1960-an. Dia juga anggota mahasiswa pencinta alam yang mana adalah salah satu utama alasan saya masuk Universitas Indonesia. Berbekal secarik peta, sebuah kompas, protaktor dan seperangkat alat tulis sebagai panduan untuk navigasi darat, hutan-hutan pun siap saya jelajahi. Latihan pun tak lupa dijalani terlebih dahulu, sebuah kordinat yang diberikan untuk tujuan. Tanjakan yang curam, turunan yang licin penuh batu-batu, teriknya matahari yang menembus rapatnya hutan, ditemani dengan suara merdunya burung-burung yang berirama syahdu, kulewati punggungan dan lembahan demi sebuah pengalaman yang tak terbayarkan. Akhirnya saya menemukan sebuah air terjun besar yang bernama Curug Sawer, entah mengapa dinamakan demikian, saya pun tak habis pikir dibuatnya. Perjalanan selanjutnya saya akan menembus hutan yang lebih dalam untuk mencapai Alun-alun Suryakencana dan Puncak Gunung Gede. Bersama teman-teman yang lain, saya melibas duri-duri rotanyang menghadang dan lebatnya hutan tropis di kawasan Taman Nasional Gunung Gede dan Pangrango. Menit demi menit, jarum jam pun makin berputar dengan cepat, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul lima sore, tim memutuskan untuk beristirahat di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Saya dan teman-teman segera mencari setumpuk kayu untuk sedikit bahan bakar untuk menghangatkan suasana sembari teman-teman mendirikan singgasana untuk beristirahat. Celoteh dan canda tawa akrab saya bersama semua calon anggota mahasiswa pencinta alam lainnya menemani malam yang panjang di tengah kobaran api unggun yang makin menghangatkan suasana. Pada akhirnya kantuk pun menyerang insan yang telah kelelahan setelah menempuh waktu perjalanan berjam-jam.
Suara burung-burung pun masih setia menyambut pagi yang dingin, segelas teh manis hangat, kudapan dan beberapa suap nasi mengisi perutku yang kosong demi melanjutkan perjalanan ke padang rumput yang luas dan ditumbuhi bunga-bunga keabadian. Masih dengan medan yang sama penuh dengan tanjakan-tanjakan dan lebatnya hutan-hutan, tak beberapa lama, saya disambut oleh bunga yang berwarna putih cantik yang tumbuh dalam keabadian di tengah suhu yang dingin. Sungguh kepuasaan tersendiri mencapai Alun-alun Suryakencana melewati jalur yang tak pernah kulewati sebelumnya. Tak lama beristirahat, saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Gede yang berketinggian sekitar 2900 meter di atas permukaaan laut. Dengan waktu 15 menit aku pun berhasil mencapai puncak. Sebuah selebrasi saya lakukan dengan membelah buah melon untuk dibagikan ke teman-teman. Sebuah perjalanan yang tak akan saya lupakan.


bagus deh
BalasHapusmantap joss
BalasHapus