Selamat Hari Kerusakan Ke-80
Pengemudi ojol Affan Kurniawan disebut 'martir demokrasi' – Apakah aksi massa bakal membesar?
Protes bahkan dinilai dapat meluas ke isu yang lebih besar mengingat ketidakpuasan masyarakat sudah bermunculan di beragam sektor, mulai dari penurunan demokrasi, ekonomi yang melambat, dan sikap represif berulang aparat hukum dalam merespons kritikan.
"Public distrust luar biasa. Seluruh institusi mengecewakan. Kalau sudah begini, kemungkinan bisa ada semacam [tuntutan] tata ulang bernegara," kata Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedillah Badrun.
Penyebutan sosok Affan sebagai "martir demokrasi" juga bermunculan di media sosial, baik dari para tokoh politik, akademisi, maupun masyarakat umum.
Presiden Prabowo Subianto memang telah menyatakan prihatin atas kematian Affan dan membuat klaim pemerintah siap menanggung kehidupan seluruh anggota keluarga almarhum.
Namun, para pengamat menilai pernyataan Prabowo tersebut tidak tepat sasaran dan tidak akan mampu meredam kemarahan yang telah menjalar ke seluruh lapisan masyarakat.
Berpotensi meningkatkan protes masyarakat
Dalam pernyataan di rumah duka pada 29 Agustus, perwakilan keluarga menyebut sosok Affan Kurniawan sebagai tulang punggung keluarga.
Pria 21 tahun tersebut disebut kerap berangkat pukul 06.00 WIB saban hari untuk menambah pemasukan rumah tangga lantaran sang ayah bekerja serabutan.
Affan tinggal bersama tujuh anggota keluarga lain di sebuah rumah kontrakan dua kamar berukuran sekitar 30 meter persegi di kawasan Blora, Menteng, Jakarta Pusat.
"Almarhum [Affan] menjadi tulang punggung karena bapaknya juga kerja serabutan. Jadi, benar-benar menjadi tulang punggung. Maka, jam 6.00 WIB dia sudah jalan," kata Fachrudin, yang merupakan kakek Affan.
Ubedillah Badrun mengatakan, sosok Affan yang merepresentasikan masyarakat kelas pekerja Indonesia tersebut menjadi salah satu faktor pemicu meningkatnya kemarahan masyarakat.
Kondisi Affan tersebut kontras dengan keadaan para elite saat ini, seperti anggota Dewan Perwakilan rakyat (DPR) yang menikmati beragam tunjangan.
Belum lagi kejengahan masyarakat akibat sikap represif aparat hukum yang berulang, terang Ubedillah.
"Mau tidak mau itu memengaruhi psikologi publik. Ada akumulasi kemarahan. Eskalasi [aksi massa] akan naik," paparnya.

Senada, sosiolog Universitas Gadjah Mada, Derajad Widhyharto, menyebut kematian Affan "otomatis meningkatkan skala protes masyarakat."
Menurutnya, sosok Affan yang menggambarkan kondisi kebanyakan masyarakat yang tertindas telah menyatukan banyak lapisan masyarakat. Sebaliknya, terang Derajad, para elite memiliki banyak previlese.
"Ada perasaan kesenjangan yang lebar. Ditambah, sikap wakil rakyat yang berjoget di acara DPR dan soal tunjangan yang besat," kata Derajad.
Derajad menyebut situasi nasional saat ini sudah dalam fase contentious politics atau politik konflik, ketika masyarakat dan pemerintah sudah saling berhadapan.
Andaikata rangkaian protes berlanjut hingga akhir pekan, Derajad menilai aksi massa bakal kian membesar. Tuntutan massa pun dinilai akan meluas ke isu lain.
Komentar
Posting Komentar